The Evolution of Rhythm & Music Games : From PaRappa the Rapper to VR Music Experience
Pada
awal tahun 1996, dunia permainan video dihadapkan pada sebuah inovasi
revolusioner yang akan membuka pintu bagi perkembangan permainan genre ritme
dan musik. Bermula dari diluncurkannya PaRappa the Rapper, sebuah permainan
yang membawa pemainnya ke dalam petualangan musikal yang unik, penuh dengan
ritmik dan alunan musik, menciptakan hype tersendiri pada masa itu dan menjadi
salah satu genre paling berkembang dalam industri permainan hingga saat ini.
Gerbang
Pembuka : PaRappa the Rapper
PaRappa the Rapper
adalah permainan ritme dan musik pertama yang memasuki pasar game pada masa
itu. Developer PaRappa the Rapper, NanaOn-Sha, berasal dari Jepang, meluncurkan
game yang mengajak pemain untuk bersenang-senang hanya dengan mengikuti alunan
musik dan ritme yang menjadi tantangan dalam game tersebut. Karakter PaRappa
sendiri merupakan seekor anjing yang bercita-cita menjadi rapper, mengajak
pemainnya untuk belajar melalui petualangan musikal yang sangat menghibur. Pertama
kali rilis, game PaRappa the Rapper ini dapat dimainkan di PlayStation.
Beberapa tahun kemudian, dalam rangka memperingati sepuluh tahun game ini
dirilis, pada tahun 2006, PaRappa the Rapper dapat dimainkan pada PSP
(PlayStation Portable) dan setelah mengalami perkembangan, developer merilis remastered version dari game ini untuk PlayStation
4 pada tahun 2017 dalam rangka memperingati dua puluh tahun rilisnya PaRappa
the Rapper.
Era
Arkade : Ketukan di Lantai Dansa oleh Dance Dance Revolution
Melangkah beberapa tahun setelah dirilisnya PaRappa the Rapper, genre ini melonjak ke tingkat baru dengan munculnya Dance Dance Revolution pada akhir 1990-an. Dance Dance Revolution membawa elemen baru, yaitu permainan ritme ke lantai dansa arkade, sehingga menciptakan sensasi baru di antara pemain yang ingin menggabungkan gerakan fisik dengan ritme musik. Elemen baru ini diluncurkan oleh developer Dance Dance Revolution yang berasal dari Jepang, Konami, sebagai terobosan baru sebab pemain akan berdiri pada “dance platform” atau “stage” dan pemain akan menginjak panah berwarna yang keluar dari layar sesuai dengan ritme musik yang dipilih. Mesin Dance Dance Revolution pada saat itu hingga kini banyak ditemukan pada pusat-pusat permainan arkade yang ada di pusat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan lainnya.
Gameplay Unik : Simulasi
Gitar Realistis oleh Guitar Hero
Pada tahun 2005, Harmonix,
sebuah game developer berasal dari Amerika
merilis sebuah game bergenre rhythm &
music, yaitu Guitar Hero. Kehadiran gameplay
yang inovatif dengan kontroler gitar yang realistis, membawa wajah baru pada permainan
genre musik dan ritme. Pemain akan menggunakan game controller berbentuk fret gitar, seperti simulasi dalam memainkan
lead, bass, dan rhythm gitar di
berbagai lagu. Pemain harus menyesuaikan note
yang hadir secara terus-menerus pada layar dengan tombol fret berwarna pada game controller, menekan dan menggesek
tombol fret sesuai dengan ketukannya untuk mencetak poin, dengan begitu pemain
harus fokus dan cekatan dalam menekan game
controller sehingga dapat mencetak poin yang tinggi. Saat pertama kali
dirilis, Guitar Hero hanya terdapat di PlayStation 2, kemudian semakin upgradenya seri PlaySation dan konsol
game lainnya, Guitar Hero turut hadir pada PlayStation 3, Xbox 360, dan Wii. Namun,
pada tahun 2011, Activision mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan pengembangan
franchise Guitar Hero. Ada rumor bahwa Microsoft berencana untuk menghidupkan
kembali franchise Guitar Hero, tapi hingga saat ini masih belum ada pengumuman
resmi mengenai game Guitar Hero baru.
Pemain
Menjadi Pencipta : Osu!
Seiring berkembangnya platform permainan, komunitas rhythm game enthusiast mulai memberikan
kontribusinya pada perkembangan genre ini. Pada tahun 2007, dirilis sebuah rhythm game bernama Osu! Developer Osu!
ini, Dean “peppy” Herbert, yang di mana ia juga sebagai orang yang gemar
bermain rhythm game, membuat
elemen-elemen menarik yang menjadi daya tarik utama bagi mereka yang ingin
berpartisipasi secara aktif dalam menciptakan pengalaman musik mereka sendiri,
sebab para pemain bisa membuat beatmap melalui map
editor di dalam game, sehingga Osu! sangat dikenal oleh komunitas gamers dan memiliki banyak pemain aktif,
hingga diketahui pada tahun 2022 tercatat lebih dari 19 juta pemain aktif di
salah satu modenya. Game ini juga memiliki sistem ranking, sehingga pemain dapat bersaing satu sama lain untuk
mendapatkan skor tinggi. Tak heran bila game ini sangat digandrungi oleh
komunitas gamers karena
fitur-fiturnya yang sangat menarik!
Menari di Dunia Virtual
: Sensasi Baru Rhythm Game bersama Beat Saber
Melompat ke tahun 2018,
permainan ritme tidak hanya menjadi pengalaman visual dan auditori, tetapi juga
menghadirkan dimensi baru melalui Virtual Reality (VR). Melalui VR, pemain dapat melihat dan merasakan
lingkungan game dengan lebih realistis, dan berinteraksi dengan objek-objek virtual
dengan cara yang lebih natural. Game seperti Beat Saber
merupakan salah satu rhythm & music
game VR paling populer, di mana pemain harus memotong kubus-kubus yang
bergerak mengikuti ritme musik. Kemudian dari OST yang tersedia, Beat Saber
merilis OST resmi yang mencakup koleksi lagu yang dibuat khusus untuk permainan
atau berlisensi dari berbagai artis. Saat ini ada enam volume OST resmi yang
tersedia untuk dibeli. Dengan begitu, kombinasi gerakan fisik, efek visual, dan
musik yang energik menciptakan pengalaman bermain yang imersif dan
menyenangkan.
Siap Menari di Dunia
Virtual? Rhythm & Music Menanti Anda!
Dari langkah-langkah
awal PaRappa the Rapper hingga pengalaman VR yang menakjubkan, perjalanan permainan
genre ritme dan musik adalah perjalanan penuh warna dan inovasi. Melalui
teknologi, kreativitas, dan semangat komunitas, genre ini terus berkembang,
membuktikan bahwa evolusi tidak pernah berhenti. Dengan dunia VR dan teknologi yang
semakin matang, kita dapat dengan antusias menanti babak baru dalam
perkembangan genre ini, menggiring kita ke pengalaman musik dan ritme yang
lebih mendalam dan menakjubkan.





Komentar
Posting Komentar